• 10

    Feb

    untuk kekasihku

    Selamat senja, sayang.. Maaf karena aku tak menemuimu hari ini. Pun aku juga tak pergi ke gereja seperti hari minggu biasanya. Tidak, tidak terjadi apa-apa denganku. Besok kalau bertemu, kau boleh menjewer telingaku karena kemalasanku. Kau tahu, setiap malam minggu sampi minggu pagi aku setia di depan televisi. Membiarkan mataku terhibur oleh beberapa pertandingan sepakbola. Semalam dua klub kesayanganku menang, bahkan dengan skor yang sama. Chelsea dan Madrid menang 4-1 dari lawan masing-masing. Aku berdosa ya, lebih mengutamakan bola daripada pergi ke gereja. Pagi ini kantuk terlalu banyak singgah di mataku. Juga karena siangnya aku ada pertandingan futsal bersama klub futsalku. Maaf ya. Tuhan, maafkan aku. Pesanmu belum kujawab, nanti saja sekalian aku telpon kamu. Maaf sudah membu
  • 9

    Feb

    mohon dimaknai

    Tidak akan banyak yang kutulis di sini. Entah sudah berapa kali aku tulis di kotak-kotak pesan mengenai kemauanku untuk diam dalam riuhku sendiri. Tidak semua yang terjadi padaku bisa kau ketahui, sudah pula kutulis itu di isi pesanku. Jika sampai sekarang aku masih mau diam, itu karena apa yang di dalam diriku masih terus mencari tenang. Untuk saat ini, dan sampai waktu yang tak mampu kubataskan, diam akan jadi ketenanganku. Terserah apa katamu dan anggapanmu tentang pencitraan yang kau maksudkan kepadamu. Aku tidak peduli dengan pencitraan. Pun dengan tulisan ini, bagaimana penilaianmu terhadapku. Sungguh, aku butuh waktu untuk menenangkan diri dengan caraku sendiri. Kau boleh bercerita apa saja, pun aku yang masih memilih diam. Sebut aku egois, jika memang demikian. Oh ya, kekasihk
  • 7

    Feb

    semoga sampai nanti

    Selamat senja, kesayanganku. Lagi-lagi aku menulis untukmu. Akan kuceritakan tentang perjalanan kita baru saja. Mungkin ada yang kau lupa. Juga rindu-rindu yang bertalu kepadamu. Kira-kira dua pekan sudah perjalanan kita tapaki, berdua. Setiap senja, sering kita habiskan tanpa jeda. Pun yang baru saja. Kita. Ya, kita apa adanya. Percaya sebagai jalan. Tawa yang selalu berdampingan. Cinta jadi bekal dalam dada. Bagaimana aku tidak bahagia, sayang? Semesta sungguh membuatku melayang, meski aku tak pernah mampu terbang. Apa kau pernah tahu, Tuhan menyinggahkanmu kepadaku? Semoga sampai nanti, sampai kau tinggal dalam hati, sampai waktu selesai kita jelajahi.
  • 6

    Feb

    maaf pertama

    Mungkin aku belum paham kebiasaanmu. Belum mengerti juga apa yang tak kau kehendaki dalam hatimu. Maaf, jika aku masih meraba-raba sifatmu. Dua pekan, belum cukup waktu untuk mengenalmu. Oleh sebabnya, aku mau mengenalmu selama berwaktu-waktu. Aku mencintaimu. Jika ini kesalahanku yang pertama kali, maaf. Biar jadi bagianku untuk memahami. Pun jadi bagianku untuk mengerti. Bagianmu, ijinkan aku mencintaimu berkali-kali. Menghapal hatimu, sampai tahu benar hitungan detakmu.
-

Author

Follow Me

Search

Recent Post